Sanggar Kesenian Cahaya Gumelar, Agen Pemerintah dalam Pelestarian Budaya di Cikarang Pusat

By Dwi Aulia Syifayantie 04 Mar 2020, 22:21:59 WIB

Cikarang Pusat terkenal sebagai “Kota Industri". Namun hal tersebut tidak membuat pemerintah mengabaikan kebudayaan bangsa yang telah ada. Buktinya dapat dilihat dari pertumbuhan dan perkembangan sanggar kesenian, salah satunya Sanggar Kesenian Cahaya Gumelar yang telah hadir sejak April 2005.


Sanggar yang dibentuk oleh Asam Somantri, Adang Abdurahhim, Agus Gusyono, dan Sanam Mulyana ini terletak di Jl. Jagasatru Kp. Tegal Tipar, Desa Hegarmukti, dengan jumlah anggota aktif sebanyak 32 orang. Berbagai macam kesenian seperti degung, upacara adat, sawer panganten, jaipong, calung, kacapi suling, wayang golek, musik etnik, dan home band dilestarikan dalam sanggar ini.


“Saya berharap kehadiran Sanggar Seni Cahaya Gumelar bisa melestarikan budaya yang ada, membuat masyarakat lebih tertarik dalam mempelajari seni tradisional terutama untuk kaum milenial, karena merekalah yang akan melanjutkan budaya ini. Semoga sanggar ini juga semakin maju dan bisa mempunyai niai jual yang bernilai,” ujar Bapak Asam selaku pendiri Sanggar Cahaya Gumelar.


Pemerintah sangat mendukung kegiatan pelestarian budaya di Cikarang Pusat dengan menampilkan unsur kebudayaan pada setiap acara yang diselenggarakan. Sanggar Cahaya Gumelar pun tidak pernah absen dari kegiatan dan perlombaan yang ada, baik yang diadakan oleh pemerintah maupun yang lainnya.


Untuk menunjang perkembangan, setiap tahunnya pendiri sanggar selalu berusaha memperkenalkan kegiatan seni melalui media ataupun secara langsung, membuka pelatihan tari, karawitan, musik tradisional, wayang, dan lainnya. 


“Saya senang dengan adanya sanggar ini, karena membuat anak cucu saya lebih tau tentang kesenian tradisional. Saya berharap sanggar-sanggar seperti ini terus ada supaya anak-anak tidak lupa dan kalau bisa sih ikut berpartisipasi dalam mempelajari seni-seni tradisional, supaya terterap diotak mereka dan tidak gampang dilupakan,” ujar Ibu Ai, selaku masyarakat yang menikmati seni tradisional.


Write a Facebook Comment

Tuliskan Komentar anda dari account Facebook

View all comments

Write a comment